Trekking Cisadon Sentul Bogor via kediaman Mantan Danjen Kopasus

Trekking Cisadon Sentul – Trekking Cisadon adalah aktivitas olahraga dengan berjalan kaki menuju sebuah kampung terasing yang berada diantara pebukitan belantara Cisadon Bogor. Trekking Cisadon memiliki titik awal perjalanan dari banyak tempat seperti Gunung Pancar, Rawa Gede, Babakan Madang, Paseban dan lainnya. Untuk saat ini titik awal perjalanan yang banyak di pergunakan trekking Cisadon berada di sekitar areal kediaman Mantan Danjen Kopasus di era pemerintahan Orde baru (Prabowo Subianto).

Titik perjalanan lainnya trekking Cisadon berada di punggungan barat Gunung Paseban. Selain Trekking ke Cisadon, di kawasan wisata minat khusus Paseban ini memiliki beberapa jalur trekking yang menghubungkan antara satu obyek daya tarik trekking denga destinasi lainnya, seperti 1. Paseban Kencana Routes, 2. Paseban 7 Cilember Routes, 3. River trekking Routes dan 4. Family Trekking Routes.


Go Adventure

+62 811 1200 996

Whatsapp

Baca Paket Trekking :
4 Paket trekking di Puncak Bogor

Trekking Cisadon Sentul – Keragaman jalur trekking di sentul Bogor telah menjadi daya tarik wisata petualangan bagi masyarakat Ibukota Jakarta dan sekitarnya, salah satu jalur trekking yang menantang adalah Cisadon dari kediaman Prabowo yang berada di Bojong Koneng Sentul.

Pada rute trekking Cisadon dengan titik awal perjalanan dari kediaman mantan Danjen Kopasus pada Era Orde Baru ini memiliki jarak tempuh perjalanan sepanjang 8 kilometer yang dapat dicapai dengan durasi sekitar 3-4 jam, atau 16 km sehingga kembali pada titik awal perjalanan.

Baca Juga :
10 Tempat trekking Sentul dan 4 paket hiking di Puncak Bogor terfavorit

Trekking story of Cisadon Sentul Bogor


Trekking Cisadon Sentul – Dengan beberapa orang pemandu, perjalanan untuk melepaskan hiruk-pikuk dari ruang perkantoran dan bising perkotaan serta segala fenomenannya, kami akan melakukan trekking Cisadon melalui jalur Menteri Pertahanan ke-26 Republik Indonesia dalam Kabinet Indonesia Maju. Aku dan beberapa perempuan pesolek dan pria-pria yang kesehariannya bersepatu hitam mengkilat, hari ini mereka menggunakan sepatu trekking jenis high cut, sebagian nya low cut dengan daypack tergendong di punggung-punggung kami. Begitupun dengan para perempuannya, saat ini mereka tidak menggunakan sepatu Ballerina yang biasanya tampak keceh ketika menapaki lantai ruang-ruang perkantoran.

Namaku kecilku Kiade, Aku seorang pemandu lokal yang gemar menuliskan cerita perjalanan penjelajahan di kawasan hutan-hutan yang masih liar, dan mengabarkan pada dunia tentang indahnya sudut-sudut Indonesia dari pelosok  belantara. Penjelajahanku kali ini akan menapaki keindahan dusun yang sepi dari kemeriahan kota besar, kendatipun lokasinya sangat dekat dengan pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Titik awal keberangkatan kami trekking menuju Cisadon berada di sekitar kediaman Prabowo Subianto, terletak di Desa Bojong Koneng. Hal yang tidak lazim ketika menemukan aparat berseragam loreng lengkap dengan senjata laras panjang berkeliaran di wilayah sipil, dan disini kami menemukan tubuh-tubuh tegap nan gagah lengkap dengan seragam dan persenjataanya itu menjaga kediaman sang mantan General yang berjuluk the rising star karena karir militernya  pada saat Prabowo muda telah menduduki jabatan strategis di TNI di  zaman pemerintahan Orde Lama.

Perjalanan trekking ke Cisadon kami lakukan pada hari kerja, terlihat seluas mata memandang tampak suasana lengang di sekitar kawasan sang General. Dan, kabarnya suasana seperti ini akan berubah pada weekend menjelang. Disaat hari libur, warung yang sedianya menjamu kami, hari ini tutup dan akan kembali buka di akhir pekan atau hari libur nasional.

Jarak perjalanan dari kediaman sang  “the Rising Start” menuju kampung terpencil di tengah belantara itu berjarak sekitar 8 kilometer atau di-estimasi-kan menghabiskan waktu penjelajahan selama 3-4 jam dengan berjalan kaki. Diawali dengan sebuah tanjakan aspal yang telah rusak di sana-sini nya, itu menjadi penanda rute keberangkatan kami di pada pukul 8.02 WIB.  Namun sebelum kaki ini menjejakan diaspal-aspal yang rusak, peregangan untuk ‘menghangatkan’ otot pun dilakukan.

Selesai peregangan, kami bersiap dengan perbekalan yang tersusun apik dalam ransel masing-masing, sementara kamera tergenggam ditangan. Dan, diantara kami telah memastikan bahwa cemilan serta air minum tak satupun  tertinggal, hal ini karena kami tidak ingin menggantungkan harapan akan adanya warung yang buka di sepanjang perjalanan menuju Cisadon.

Perjalanan pun di mulai, aspal yang rusak mulai berganti dengan medan berbatu-batu campur dengan tanah yang basah sisa di guyur hujan semalam. Dan, trek pun mulai menanjak yang berkhiaskan dengan dinding alam di sebelah kanannya dan kirinya adalah jurang. Samar-samar terlihat pemandangan gunung dan bukit yang menghijau. Meski halimun memendekkan jarak pandang, namun awan mendung masih konsisten dalam mempertahankan air nya agar tidak turun ke bumi. Sesekali kami harus melewati jalan dengan ceruk memanjang yang cukup dalam, seperti adanya bekas ban mobil offroad yang banyak melintas sepanjang jalan menuju Cisadon. Bisa dibayangkan ketika hujan besar turun,  pastinya ceruk-ceruk yang berada di jalanan berlumpur itu akan berubah menjadi kolam lumpur yang menanjang.

Setelah trekking selama 2 kilometer berjalan, kami memutuskan untuk beristirahat disisi sebuah bukit bernama kumpel, di persimpangan jalur Prabowo arah Megamendung.  Di menit-menit terakhir istirahat, motor-motor matic warga melintas, itu bukan motor trail atau motor khusus yang didesain untuk melintasi jalanan berlumpur loh…!. Yang membuat kami takjub, mereka melintas layaknya di jalanan beraspal, seperti nya pengendara motor matic itupun tak terlihat adanya hambatan ketika melewati kubangan-kubangan jalan tanah yang dipenuhi air.

Dalam sekejap, Kabut tipis Halimun mulai tersibak dan memecah tabir-tabir yang ada dibalik halimun, sekejap pula kami melihat pemandangan gunung dan bukit lebih tampak jelas dari sebelumnya, lebih tegas dari mata sang IT M Tirta ketika melepas gelas matanya yang minus 3 plus. Tajuk-tajuk tegakan, pepohonan semak dan vegetasi lainnya yang berada disepanjang jalur perjalanan pun jadi semakin jelas kelihatan. Dibalik semua vegetasi yang ada,  pohon-pohon kopi robusta yang baru berbuah hijau tumbuh subur dan mendominasi vegetasi yang ada.  Sesekali kami menemukan bunga-bunga liar berwarna ungu yang tumbuh di antara semak dan tumbuhan pakis yang menjadi tumbuhan penciri hutan pegunungan.

Disepanjang perjalanan, beberapa kali jalur trekking yang kami lalui di lintasi oleh aliran air yang ‘menyeberang’ jalan. Alirannya pun bervariasi, ada yang besar juga yang kecil., dan adapula aliran seperti anak sungai pegunungan yang melintasi jalanan, atau (di balik) jalan yang melintasi aliran sungai. Di beberapa titik kubangan aliran air terpasang bilah-bilah bambu yang airnya dapat diminum langsung atau sekadar mencuci muka. Air yang ada dalam bilah-bilah bambu itu terasa begitu dingin meski tanpa es batu dan segar menyegarkan. Air tersebut pun kami masukan kedalam botol sebagai tambahan pasokan air selama perjalanan.

Setelah memuaskan dahaga dengan air pegunungan yang segar menyegarkan, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini laksana membelah perkebunan kopi. Di kiri dan kanan jalan merupakan perkebunan kopi yang membentuk pagar alam. tidak jauh perjalanan, kami melihat sebuah pohon dengan papan bertuliskan ‘Cisadon’. Kurang dari 25 menit, tampaklah rumah-rumah beratap seng dengan papan sederhana bertuliskan ‘Selamat datang di Cisadon’. Tepat di pukul 11.56 kami sampai di pintu gerbang Cisadon. (11:56 – 08.02), lalu diarahkan menuju rumah  Ujang Usma yang katanya menjabat sebagai ketua RT 4- Cisadon. 

Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh istri kang Ujang Usma ternyata mampu menghangatkan tubuh sekaligus meredakan lelah setelah melakukan perjalanan dari jam kurang lebih 4 jam trekking terhitung 08.02 – 11:56. Sekejap kemudian, Kabut halimun titpis turun berarak lalu pekat menutup segala yang hijau di hadapan mata kami, seolah kesempatan khusyuk untuk dapat menikmati secangkir kopi tanpa distraksi, tak ada dering telepon cerdas yang tidak mencerdaskan, tak  ada bising suara knalpot yang merupakan pabrik polusi di kota-kota besar. Disini hening mampu memberikan kecerdasan kepada manusia sebagai mahluk yang paling sempurna yang dicipta Oleh Allah yang Maha Menciptakan. Di Cisadon, Anda bakal dan kami akan berkawan dengan sunyi, sepi dengan hutan sebagai penyembuh. (baca : Hutan sebagai penyembuh)

Menjelang sore hari, kami harus beranjak menempuh perjalanan 8 kilometer lagi untuk kembali ketitik awal perjalanan, dimulai dengan menempuh jalanan setapak yang dikelilingi semak belukar. Perjalanan kembali ke titik awal pagi tadi di sekitar kediaman mantan Danjen Kopasus akan mengkombinasikan tiga jalur trekking di Sentul Bogor yaitu jalur arah Curug Kencana, jalur Prabowo dan jalur arah Megamendung. Setelah melewati semak belukar, perjalanan didominasi dengan melewati pematang sawah dan jalan setapak membelah hutan masyarakat yaitu hutan agroforesty.

Sampailah kami di areal sekitar rumpun bambu. Menurut cerita penduduk, tidak jauh dari areal rumpun bambu terdapat petilasan Prabu Siliwangi berupa batu yang diletakkan mirip nisan. Masyarakat lokal mempercayai bahwa dahulu kala sang prabu menyambangi lokasi ini. Tidak jauh dari petilasan terdapat tiga buah sumur dengan air yang segar yang memiliki pH tinggi sesuai hasil pemeriksaan kualitas air sumur pada sebuah laboratorium. Ketiga sumur yang letaknya berdekatan ini diyakini mampu membawa berkah kata seorang penduduk yang kami temui (berkah yang dimaksud  oleh penulis seperti meyegarkan kerongkongan jika air tersebut diminum ketika sedang dahaga, dls)

Ternyata turun gunung dengan trek yang curam dan basah itu lebih berat daripada ketika melakukan pendakian dipagi menjelang siang hari tadi. Langit yang sedari pagi menahan air, sore ini menumpahkan bebannya ketika dalam perjalanan pulang. Dingin nya udara pegunungan bercampur dengan dingin air hujan yang menimpa tubuh-tubuh kami yang mulai lelah merupakan beban yang harus kami pikul sehingga kembali pulang. 

Dan dalam benak aku “Jangan membiarkan fokus goyah ketika rasa lelah bergelayutan pada tubuh-tubuh kami yang meminta untuk segera lelap dalam kasur yang empuk dengan selimut hangat”. Jalur trekking pun semakin licin seiring dengan hujan dan pijakan-pijakan kaki pun terasa seperti goyang tak stabil. Sepertinya kepulangan kami dari Cisadon sedang dii ringi oleh  ‘orkes’ alam, suara tonggeret yang memekik, nyanyian surili, berpadu peran dengan hembusan angin yang memecah daun-daun serta ranting adalah simponi pengiring kepulangan. Pada pukul 17.32 kami sampai di titik awal perjalanan usai trekking sepanjang 16 kilometer.

Alhamdulillah aku mengucap syukur atas segala sapaan alam dimana aku menyelesaikan story trekking of Cisadon. Disini disebuah tempat bernama Kendeng, Nama kecil ku Kiade, mungkin di esok hari kita akan bersama menjelajahi sudut-sudut Indonesia untuk merasakan pesonanya.

Obyek Daya tarik trekking Cisadon Sentul


Baca Juga :
Trekking Sentul Leuwi Asih – Goa Garunggang

Trekking Cisadon Sentul –  Pesona obyek daya tarik perjalanan menuju Cisadon dari Babakang Madang Sentul Bogor meliputi tantangan trek yang banyak digunakan oleh para offroader ataupun penghobi crosser sehingga para trekker harus melewati kubangan-kubangan dalam yang licin sewaktu hujan. Di sepanjang perjalanan, para trekker akan diperhadapkan dengan perbukitan, hutan, perkebunan kopi dan kampung-kampung tradisional.

Kampung Cisadon

Trekking cisadon sentul bogor
Image 4 : Kampung Cisadon

Trekking Cisadon Sentul – Cisadon merupakan nama kampun yang berada  Karang Tengah, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Jika dilihat dari letak geografis, Cisadon terletak di antara bukit,  sekitar 76 km dari pusat pemerintah Indonesia, berada di tenggara Istana Merdeka Jakarta

Cisadon adalah sebuah romansa antara manusia, hutan dan kesunyian.  Menepi sejenak ke Cisadon untuk mengasingkan diri dari bising klakson kendaraan maupun gemuruh notifikasi ponsel dalam suasana perkampungan yang sunyi asri dengan suara kotek ayam dan celoteh warga yang menetap di sebuah perkampungan yang sunyi, sepi dan sendiri ditengah belantara.

Ketika anda berjelajah ke Cisadon, di sepanjang perjalanan menuju kampung yang ada diantara bukit ini pada musim kemarau, anda akan akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang begitu indah, lain halnya jika dilakukan pada musim penghujan, pemandangan akan terbatasi oleh kabut halimun. Kampung yang belakangan ini ramah para pelancong Jakarta merupakan perkampungan penghasil kopi luwak berkualitas.

Lampu minyak sebagai penerangan sebahagian masyarakat Cisadon pada malam hari, sejak tahun 2010 perlahan tergantikan dengan lampu LED  yang arus listriknya bersumber dari rakitan kincir sederhana yang dipasang di tepi sebuah aliran sungai yang menuju Curug Kencana. Sungai dengan air yang jernih  sedikit dibendung dan dibelokkan dengan pipa-pipa PVC untuk memutar kincir dan menggerakkan as roda lalu memutarkan dinamo yang mengubah energi kinetik menjadi energi listrik. 

Peta dan Koordinat GPS:

Cisadon berada Karang Tengah RT03/01, Karang Tengah, Kec. Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat, 
https://goo.gl/maps/Dg8ztW5yandfokgi8
9XC2+6P Karang Tengah, Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga :
Trekking di Sentul Bogor dan Puncak serta perbedaannya dengan hiking

Hutan kopi


Trekking Cisadon Sentul – Memang, nama Cisadon belum sepopuler daerah penghasil kopi unggulan di Indonesia  seperti Kopi Gayo, Kopi Java Preanger, Kopi Mandailing, Kopi Bali Kintamani, Kopi Sidikalang, Kopi Papua Wamena, Kopi Toraja, Kopi Flores Bajawa, namun Cisadon merupakan penghasil kopi terbaik yanga da di Bogor Jawa Barat. Kopi yang ditanam di Cisadon merupakan kopi jenis robusta yang biasa tumbuh di ketinggian kurang dari 800 Mdpl dengan suhu 18-36˚C.

Menurut lakon, Awal muasalnya adanya perkebunan kopi di Cisadon dimulai pada 1983, dari penuturan seorang nenek tua penduduk pertama Cisadon, tahun tersebut dia bersama almarhum suaminya membuka lahan di Cisadon untuk ditanami kopi. Sehingga pada akhirnya, Cisadon dan kampung-kampung penyangganya merupakan salah satu hutan kopi yang ada di Bogor Jawa barat.

Baca Juga :
Trekking Sentul curug leuwi Hejo dan leuwi Lieuk Bogor

Resume jalur trekking Cisadon Sentul Bogor

Trekking cisadon sentul bogor
Image 6 : Sebuah moment

Trekking Cisadon Sentul – Nuansa romansa yang terbentuk dari jalur perjalanan, hutan dan kampung yang sunyi di Cisadon adalah pengalaman yang akan didapatkan seseorang ketika melakukan aktivitas trekking Cisadon dari Babakan Madang ataupun titik awal perjalanan lainnya di sekitar sentul dan Paseban Puncak.

Disclaimer.

Catatan perjalanan (trekking Story) pada artikel berjudul “Trekking Cisadon Sentul Bogor via kediaman Mantan Danjen Kopasus” ini adalah imaginer yang dihasilkan dengan mengumpulkan data-data perjalanan dan fakta dari berbagai referensi. Sehingga. ketika pun seseorang melakukan trekking ke Cisadon dari kediaman Prabowo di Babakan Madang akan merasakan hal yang sama dengan tulisan termaktub diatas jika suasana, kondisi dan waktu sesuai dengan apa yang di tuliskan pada artikel.



This entry was tagged in trekking cisadon sentul and trekking cisadon, trekking sentul, trekking puncak, trekking bogor, rute trekking cisadon, rute trekking sentul, cisadon bogor, babakan madang cisadon, trek cisadon sentul, jelajah babakan madang cisadon, trekking babakan madang cisadon.