Trekking Gunung Pancar – Curug Bidadari Sentul Bogor

Trekking Gunung Pancar – Nuansa romansa yang terbentuk dari keliaran alam liar dengan aktivitas penjelajahan menghadirkan selaksa pengalaman ketika menapaki jalur trekking antara curug Bidadari menuju gunung Pancar, ataupun jalur Highland camp – Puncak Kencana via gunung Gedogan dan puncak Karvak dalam kawasan pariwisata Puncak Bogor. Kedua jalur tersebut sedikit memiliki kemiripan, yang membedakan hanyalah unsur persawahan yang tidak dipunyai pada trek puncak Kencana, dan hutan hujan pegunungan (montane forest) yang tidak dimiliki pada rute Curug Bidadari – Gunung Pancar.


Go Adventure

+62 811 1200 996

Whatsapp

Trekking Gunung Pancar – Salah satu jalur dari banyak rute trekking di Sentul Bogor adalah jalur yang menghubungkan antara curug Bidadari – gunung Pancar dengan melewati persawahan, sungai perkampungan dan berakhir di hutan pinus merkusii.

Jalur trekking dengan tujuan gunung Pancar ini dapat ditempuh 6-8 jam perjalanan dengan mengambil titik awal perjalanan di curug Bidadari dan berakhir di Taman Wisata Alam Gunung Pancar Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat.

Variatif medan perjalanan antara curug Bidadari – Gunung Pancar yang dilalui akan menghadirkan banyak pengalaman, kendatipun banyak tantangan yang harus diselesaikan pada setiap etapenya.

Baca Paket Trekking :
4 Paket trekking di Puncak Bogor

The trekking Story of Curug Bidadari – Gunung Pancar

trekking gunung pancar sentul
Image -2 : Persawahan di Sentul

Trekking Gunung Pancar – Di bulan Shafar 1443 dalam “Ekspedisi musafir di bulan Shafar”, setelah beberapa jalur trekking dalam hutan pegunungan (Montane forest) di kawasan parwisata puncak, dan pegunungan Halimun dijelajahi, serta beberapa sungai pegunungan bawah yang menjadi sub DAS Ciliwung di susuri, ini adalah catatan perjalanan kami di kawasan bagian barat Gn. Paseban, penjelajahan kali ini akan dimulai dari Bojong koneng di Curug Bidadari yang dahulunya bernama curug Bojong Koneng.

Nama kecilku Kiade, metting point kami berada di curug Bidadari Sentul, di Jl. Sentul Paradise Park, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan yang ada di pojokan-pojokan timur laut curug Bidadari menuju dusun Cibingbin dengan menyusuri jalan setapak yang dimulai dari bagian areal terujung dari curug Bidadari menuju hamparan ladang-ladang. Diawal perjalanan ini tak banyak tanjakan curam yang didapati maupun turunan terjal yang dapat melelahkan tubuh.

Variasi medan perjalanan yang berselang-seling antara persawahan dan ladang dengan nuansa pedesaan yang berada dibatas antar hutan, membawa gairah perjalanan begitu mengebu, suhu udara yang sejuk dengan awan yang menaungi kawasan sentul membuat udara terasa begitu segar, kendatipun hati sedikit waswas, itu dikarenakan kekhawatiran akan terjadinya turun hujan besar ditengah perjalanan.

Banyak petualangan-petualangan sederhana yang menambah pengalaman di sepanjang perjalanan pada etape pertama ini. Konon kabarnya lingkungan sekitar jalan yang bakal kami lalui banyak di huni oleh hewan liar yang berkeliaran bebas, yakni monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), ular (sub-ordo Serpentes), babi hutan / celeng (Sus verrucosus), terlihat yang dari tapak kakinya yang masih basah ditanah, hewan melata serta masih banyak lainnya. Dan, jembatan sasak dengan kontruksi bambu (rawayan) yang menghubungkan antara dataran yang dibelah oleh sungai kian melengkapi pengalaman berpetualang di pagi menjelang siang.

Tanpa pemandu (local guide) dan hanya mengandalkan naluri rimba, kami menapaki pematang sawah, melangkah di luasnya terasering yang merupakan warisan teknologi pertanian dari abad silam yang belakangan ini tergerus oleh zaman. Kami meyakini akan adanya sebuah dusun yang belum diketahui posisinya, keyakinan itu ada karena adanya peradaban pertanian dimana kaki ini sedang menapakinya,  Nun jauh terlihat disana seorang bapak tua yang berjalan berlawanan arah. Dan, ketika berpapasan, senyuman ramah yang menyapa kami untuk pertama kalinya, lalu sebentar berbincang, dan dengan senang hati beliau menginformasikan arah yang harus kami tuju.

Pada akhirnya dusun Cibingbin ditemukan, itupun setelah kaki ini menapaki sebuah tanjakan yang lumayan tinggi dan menyeberangi sebuah aliran sungai dengan air yang amat jernih. Di sungai berair jernih ini aku tergoda untuk membasuh muka dan menyegarkan diri, alhasil kesegaran air sungai dan sedikit beristirahat di batu besar yang ada diantara bebatuan sungai membuat energi kami kembali pulih dan segera melanjutkan perjalanan. 

Tidak banyak yang kami temukan di dusun Cibingbin. Menurut cerita penduduk, Cibingbin berasal dari nama sebuah pohon Bingbin yang ada di sepanjang aliran sungai (Cibingbin berasal dari dua kata yaitu cai atau air dan Bingbin, dalam padanan bahasa sunda cai seringkali di singkat menjadi ci ketika merujuk pada tempat atau lokasi), dan konon katanya dialiran sungai terdapat terjunan air yang dinamakan curug Cibingbin dimana diatasnya terdapat sebuah goa yang menurut warga konon goa tersebut dijaga oleh makhluk halus bernama Buto Ijo.

Setelah sebentar beristirahat disebuah pondok penduduk, sebatas untuk menghela nafas yang panjang dan mendengarkan cerita mereka, rute kedua menuju Gunung Pancar kembali dilanjutkan, kali ini perjalanan dengan menyusuri sawah-sawah luas di seberang sungai lebar berarus cukup deras. Tak ada jembatan, sehingga kami harus meniti dan melompati bebatuan dan kadang terjun ke sungai untuk sampai ke persawahan yang berada di sebelahnya.

Kali ini perjalanan menapaki galengan persawahan yang lumayan terasa sulit, hal ini karena pematang yang berlumpur bekas malamnya terkena hujan yang deras. Dalam kondisi seperti ini, sepatu Millet dengan gerigi kasar pada alasnya mampu mencengkram tanah berlumpur. Terbayang jika seseorang yang hanya menggunakan sepatu sport atau sandal gunung biasa, resiko terpeleset cukup tinggi dan tenaga akan jauh habis terkuras.

Dari pematang setapak, di keluasan petak-petak sawah yang terbentang, kami memandang nun jauh ke depan, di sana terlihat panorama yang begitu indah nan mempesona. Terlihat dari sini dua buah bukit yang menghijau karena kerimbunan tajuk-tajuk tegakannya, disana terdapat sebuah lembahan yang ada diantara kedua bukit, mungkin itulah titik tujuan perjalanan dalam ekspedisi kali ini, jika memang itu adalah Gunung Bunder, berarti kami harus mencadangkan lebih banyak energi dan mental untuk melakukan pendakian.

Di ujung persawahan yang berbatas dengan hutan dikaki sebuah bukit, pendakian pun di mulai. “Naik-naik ke puncak Gunung, tinggi-tinggi sekali, kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara”, sepertinya syair lagu karya ibu Sud yang sering di nyanyikan oleh sebagian besar penduduk bangsa ini sewaktu sekolah Dasar, terlahir dari lingkungan seperti apa yang kami lihat pada saat ini.

Pada permulaan pendakian, jalanan setapak terlihat dengan jelas, namun semakin jauh kami melangkah pada kedalaman, kerimbunan semak mulai meninggi setinggi manusia, dan tetumbuhan lainnya mulai menutupi lintasan. Satu persatu kami melangkah, berjajar dengan formasi berjalannya orang Baduy. kami terus berjalan menapaki rimbunnya semak belukar yang tumbuh diantara tajuk-tajuk tegakan, satu persatupun bergantian untuk memimpin perjalanan di depan.

Pesan pak tua siang tadi di dusun Cibingbin ketika akan melakukan etape perjalanan kedua,  “Setialah pada jalur yang dilalui, karena kalau tidak nantinya akan tersesat di belantara hutan”. Dalam trek kali ini sesekali ditemukan percabangan atau jalur yang terpotong oleh sungai kecil, sehingga kami pun harus membuka peta, membidik kompas atau melihat jalur dengan menggunakan GPS Map Garmin 60SC yang yang terkadang sinyal satelitnya hanya mampu menangkap 2 bar. 

Dalam perjalanan ini beberapa keputusan sulit terkait jalur pendakian dan keselamatan selalu kami hasilkan dari berembuk. Dan, fasilitas peta yang disajikan oleh browser internet ataupun informasi-informasi lainnya dari mesin pencari yang sangat mempengaruhi masyarakat perkotaan pada setiap detik dan elemen kehidupan, saat ini tidak mampu mempengaruhi kami karena terbatas oleh sinyal.

Dan, menurut kami, itu hal yang baik karena hanya kemampuan murni seorang manusia yang lahir dari pengetahuan, logika dan intusinya akan terjuji menghadapi perjalanan kehidupan. Dan, itulah perangkat yang di tanamkan oleh Gusti Allah yang maha memberikan ilmu pada manusia sebagai bekal dalam menjalani kehidupan yang tentunya lebih agung jika dibandingkan (Tuhanku tidak untuk dibandingkan) dengan teknologi ciptaan manusia yang belakangan ini menjadi kiblat kehidupan dan sebagian orang menjadikannya agama bahkan tuhan serta menolak ada keilahian dewa-dewa lain yang lebih tradisional. Dengan perangkat elektronik kecil (Gadgeds seperti Handphone, tablet, laptops, PC, dls) yang memiliki fungsi khusus sebagai alat komunikasi, mereka berkomunikasi dengan tuhan nya mereka serta mengantungkan setiap detik demi detik kehidupannya, bahkan mesin pencari Google dicari dan di ingat lebih banyak daripada seluruh nama-nama Tuhan jika digabungkan.(baca  Googlesime atau Googlisme, Agama Baru Penganut Google).

Namaku kecilku Kiade, Uyeee…., rasanya aku sudah mulai tersesat dalam menuliskan the trekking story of Gunung Pancar. Baiklah kita akan kembali pada jalur yang benar, agar pemikiran pembaca pun tidak tersesatkan. Penjelajahan yang ditempuh dengan melewati semak belukar dan ilalang rapat sudah mulai tergantikan oleh pohon-pohon pinus merkusi,  itu sebagai pertanda destinasi tujuan perjalanan sudah mulai mendekat, titik akhir perjalanan sudah tak jauh lagi.

Rasanya memang sudah cukup jauh dan tinggi kami melakukan pendakian sejak dari batas ujung persawahan dan hutan. Sejenak kami berbalik memandang jauh ke belakang, terlihat persawahan yang luas terbentang yang telah kami tapaki dan dusun Cibingbin yang kami sambangi beberapa saat lalu, disini terlihat mengecil, bahkan tak terlihat jelas oleh mata telanjang. Dan, terlihat terjunan air curug Bidadari yang menjadi titik awal perjalanan hanya seperti uap putih yang menari diantara diantara pesona kota mandiri Sentul city yang dahulunya dipenuhi hutan karet kepunyaan PTPN Wilayah IX.

Senja mulai tiba, gelap sepertinya akan segera menghampiri, sebentar lagi mentari akan tenggelam pada peraduannya, lalu tergantikan oleh bulan di akhir shafar. Lanjut kami bergegas agar tidak kesulitan mencari jalur diantara semak belukar yang sebentar lagi menggelap oleh redupnya matahari. Dengan tenaga tersisa, tanjakan terakhir untuk dapat sampai dibatas hutan Pinus merkusii dimana disanalah lokasi wisata alam Gunung Pancar berada. Dengan sisa tenaga, semangat dan cahaya matahari menerpa pucuk-pucuk pinus merkusi, kamipun melangkah dengan pasti untuk mengakhiri perjalanan di hari ini.

Dihari ini kami melangkahkan kaki berjalan selama lebih kurang 3/4 hari perjalanan, menempuh belasan kilometer melewati perkampungan, persawahan, kebun-kebun, semak belukar dan hutan, dan bertegur sapa dengan keliaran alam, sedikit kami melupakan keliaran kota besar dengan segala hiruk pikuknya.

Setialah pada jalur, jika tidak hutan akan menyesetkanmu

– Pak tua

Baca Juga :
Trekking Sentul curug leuwi Hejo dan leuwi Lieuk Bogor

Obyek daya tarik wisata trekking gunung Pancar – curug Bidadari

Trekking Gunung Pancar – Nuansa trekking antara curug Bidadari – Gunung Pancar Sentul terbentuk dari empat elemen yaitu air yang terdiri dari curug dan aliran sungai, persawahan, hutan gunung Pancar dan  perkampungan. Nuansa romansa penjelajahan menghadirkan untaian simponi yang menakjubkan dimana instrumen alam berpadu peran dengan semangat penjelajahan.

Taman Wisata Alam Gunung Pancar

trekking gunung pancar sentul
Image –3 : Wisata alam Gn. Pancar

Trekking Gunung Pancar – Kawasan Wisata Alam Gunung Pancar memiliki keanekaragaman flora dan fauna serta pemandangan alam yang indah dengan udara yang sejuk. Pengunjung dapat melakukan aktivitas berkemah dalam balutan petualangan. Kegiatan lainnya yang bisa dilakukan disekitar bumi perkemahan adalah outbound memanah, menembak, berkuda, dan bersepeda.

Taman Wisata Alam Gunung Pancar sebagai salah satu kawasan pelestarian alam ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 156/Kpts-II/1988 tanggal 21 Maret 1988 seluas 447,5 hektar. Taman Wisata Alam Gunung Pancar selain mempunyai fungsi sebagai sarana pendidikan dan penelitian juga dikembangkan sebagai sarana rekreasi, khususnya rekreasi di alam terbuka.

Tipe hutan di Gunung Pancar

Tipe vegetasi hutan di Taman Wisata Alam Gunung Pancar terdiri dari hutan alam pegunungan, hutan tanaman, dan semak belukar. Tipe vegetasi hutan alam terletak di lereng sampai puncak Gunung Pancar yaitu sekitar 15 hektar dengan jenis tumbuhan meliputi Rasamala (Altingia exelsa), Huru (Quercus sp.), Beringin (Ficus benyamina), Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsisargentea), Jamuju (Podocaspus imbricatus), Rotan (Calamus sp.) dan beberapa jenis liana. Selain itu terdapat tumbuhan epiphyt yang menempel pada pohon besar seperti Anggrek, Paku Sarang Burung (Asplenium nidus), dan Paku Tanduk Rusa (Platicerium coronarium).

Tipe vegetasi hutan tanaman menempati sebagian besar kawasan ini yaitu sekitar 160 hektar dengan jenis tanaman meliputi Pinus (Pinus merkusii), Sengon (Albizia falcatria), Kayu Afrika (Maesopsis emanii) dan Meranti (Shorea sp.) yang ditanam pada tahun 1982-1983.

Sedangkan jenis tanaman lainnya adalah tanaman budi daya masyarakat seperti singkong, pisang, dan tanaman pertanian lainnya. Tumbuhan semak belukar terdiri dari jenis Kirinyuh (Chromalalna odorata), Harendong, Jarong, Saliara, Lantana (Lantana camara), dan Alangalang (Imperata cylindricaI). Sumber Highland Camp

Alamat dan Peta Taman Wisata Alam Gunung Pancar :

https://goo.gl/maps/z95NwuZRREHAwLSq9
CW2P+W22, Karang Tengah, Kec. Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga :
Trekking di Sentul Bogor jalur Leuwi Asih – Goa Garunggang

Curug Bidadari Sentul

trekking sentul curug bidadari
Image -4 : Curug Bidadari

Trekking Gunung Pancar – Curug atau air terjun bidadari memiliki ketinggian sekitar 50 meter, airnya berasal dari area sekitar konservasi, berada di Jl. Sentul Paradise Park, Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Curug Bidadari terkenal dengan keberadaan batu yang berada di bagian bawah air terjun.

Batu belah dengan ukuran besar tersebut merupakan ikon dari destinasi curug bidadari. Curug Bidadari termasuk dalam kawasan bukit Sentul yang memiliki pemandangan panorama hijau perbukitan, pemukiman elit dan komple per-villa-an. curug ini dulunya merupakan pemandian para bidadari. Menurut mitos dan kepercayaan konan katanya di curug Bidadari kerap terdengar suara perempuan di sana padahal saat dicek kembali tak tampak wujud siapapun. mitos tersebut terus diceritakan dan menjadi folklore masyarakat.

Selain karena keindahan terjunan curug bidadari dengan batu besar yang eksotis, dalam areal wisata ini terdapat kolam renang yang berada persis di bawah air terjun. Pihak pengelola menyediakan dua kolam renang, yaitu Wave Pool yang digunakan khusus untuk orang dewasa yang memiliki kedalaman kira-kira 1,5 meter, dan Lazy Pool yang dikhususkan untuk anak-anak dengan kedalaman sekitar 30 cm. Keseluruhan areal Kolam renang idi curug Bidadari memiliki luasan  sekitar 6400 meter persegi.

Alamat dan Peta Curug Bidadari Bogor :

Curug Bidadari berada di Jl. Sentul Paradise Park, Bojong Koneng, Kec. Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat 16810
https://goo.gl/maps/qTUDeN3QiGpL4EXv7
9WP5+99 Bojong Koneng, Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga :
Trekking di Sentul Bogor dan Puncak serta perbedaannya dengan hiking

Resume trekking Gunung Pancar – Curug Bidadari Sentul Bogor

trekking di puncak bogor
Image -5 : Team Ekspedisi “Musafir di bulan Shafar”

Trekking Gunung Pancar – Bagi para penghobi trekking, jalur curug Bidadari – gunung Pancar via kampung Cibingbin dan jalur trekking Paseban Highland camp – Puncak Kencana via gunung Gedongan dan puncak Karvak merupakan rute eksotis dimana elemen lingkungan yang masih alami sangat mendominasi pada kedua jalur tersebut

Disclaimer.

Catatan dalam trekking story pada artikel berjudul “Trekking Cisadon Sentul Bogor via kediaman Mantan Danjen Kopasus” ini adalah imaginer yang dihasilkan dari mengumpulkan data dan fakta dari berbagai referensi. Sehingga. ketika pun seorang trekker melakukan perjalanan trekking Cisadon dari titik perjalanan disekitar kediaman Prabowo Subianto akan merasakan hal yang sama dengan tulisan termaktub diatas.



This entry was tagged in trekking gunung pancar and trekking di sentul, trekking, trekking curug bidadari, trekking hutan, trekking di bogor, trekking di puncak, trekking di sentul bogor, wisata trekking, wisata trekking di bogor, aktivitas trekking, aktivitas trekking di sentul, trekking sentul, musafir di bulan shafar, paket trekking sentul, paket trekking puncak.