Kampung Ciptagelar; jelajah kasepuhan Banten kidul di pegunungan Halimun

Kampung Ciptagelar – Konon katanya kasepuhan Ciptagelar sudah ada semenjak 1300 tahun yang lalu. komunitas masyarakat yang mendiami pegunungan Halimun ini hidupnya semi nomaden, mereka akan berpindah dari satu perkampungan untuk membuka perkampungan baru atas perintah wangsit yang diterima dari leluhurnya, dan akan seperti itu kembali ketika wangsit turun untuk berpindah.

Dan, bukan karena wangsit yang menjadi alasanku menulis series jelajah suku pedalaman di Indonesia dengan topik kali ini adalah kampung Ciptagelar, namun aku ingin membagi kisah perjalananku dengan para penjelajah dalam bentuk narasi.

Nama kecilku Kiade, lahir jauh setelah tahun pertama Ciptagelar di dekralasikan sebagai sebuah kampung adat, dan jauh setelah pengkhianatan Kaum merah di Indonesia ataupun perang sipil Rusia. Namun, dalam catatan kali ini,  aku akan menjelajahi Ciptagelar dari massa lampau untuk dihadirkan pada hari ini dalam sebuah artikel literatur wisata petualangan dan budaya.

Dan, semoga suatu ketika kita akan bersama menjelajahi jalanan setapak dari dari enclave nirmala yang agung menuju Kampung adat Ciptagelar dengan membelah jantungnya belantara Halimun dan melintasi kehidupan hutan hujan tropis yang eksotis, sebatas untuk menikmati secangkir kopi disebuah rumah dengan desain arsitektur tihang cagak ataupun hateup salak, dan untuk menuliskan kisah-kisah tentang penjelajahan suku-suku pedalaman Indonesia yang tak tersentuh peradaban zaman dimana kafitalisme dan liberalis menjadi nadi kehidupannya.

Baca Juga :
Suku Baduy Dalam; jelajah suku pedalaman di Indonesia (seri-1)

Perjalanan menuju kampung Ciptagelar

Kasepuhan Banten Kidul – Seperti pepatah tua yang menginspirasi kehidupan “banyak jalan menuju negeri Rum”, begitupun banyak jalur jalanan menuju kampung adat Ciptagelar, namun aku lebih memilih untuk menapaki jalanan belantara Halimun yang eksotis dengan kaki bersepatu lark dan punggung dibebani ransel yang menemani perjalanan menuju kampung tua di pegunungan Halimun. 

Menembus belantara Halimun via Citalahab

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Menembus jalanan penduduk lokal dari Pasir Banteng

Kasepuhan Banten Kidul – Inilah jalan setapak tua yang menembus hutan Halimun dari enclave Nirmala yang agung Desa Malasari Bogor, jalan setapak ini merupakan jalur yang digunakan oleh masyarakat lokal semenjak dahulu kala sebagai penghubung antara perkampungan yang berada disekitar kantung di tengah halimun dengan wilayah kampung-kampung yang saat ini dikenal dengan kabupaten Sukabumi.

Perjalanan yang membelah belantara Halimun ini, oleh masyarakat lokal dapat ditempuh sekitar 4 jam perjalanan, olehku pada saat itu dapat ditempuh dengan 8 jam perjalanan, sungguh eksotis perlintasan yang di mulai dari kampung Citalahab menuju kampung adat Ciptagelar, kita akan diperhadapan pada suasana hutan tropis yang merupakan jantungnya Halimun sehingga akhirnya kita akan menemukan sebuah kampung dengan desain tata kota dan arsitektur kuno masyarakat Ciptagelar. 

Menggunakan jeep offroad atau motor trail via sukabumi

offroad ke kampung ciptagelar
Offroading to kampung Ciptagelar (sumber photo Der Willy)

Kasepuhan Banten Kidul – Kampung adat Ciptagelar, terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi dapat melewati jalan raya Sukabumi menuju pelabuhan ratu (Bogor > Ciawi > Jalan Raya Sukabumi > Cikidang > Pelabuhan Ratu)  atau dengan melintas batas melewati Bogor Barat, lewiliang menuju parung kuda jika dari arah Jakarta dan sekitarnya. Namun perjuangan yang sesungguhnya untuk sampai ke Ciptagelar via kampung Sinar Resmi.

Jelajah kasepuhan Banten Kidul di pegunungan Halimun

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Jajaran leuit dalam kasepuhan Ciptagelar

Kampung Ciptagelar merupakan komunitas masyarakat yang masih menjalankan tradisi leluhurnya secara adat dalam pegunungan Halimun, Ciptagelar tergabung dalam kasepuhan Banten Kidul yang memiliki pola kehidupan sehari-harinya dengan mengikuti kebiasaan karuhun yang di wariskan secara turun temurun. Adat dan budaya yang di wariskan oleh leluhur mereka pada komunitas kasepuhan Ciptagelar ini kental akan hubungan pengelolaan sumber daya alam dan hutan di sekitarnya secara arif yang berpijak pada nilai norma, keyakinan dan kebudayaan yang dianut-kembangkan hingga kini, yaitu kebudasyaan sunda wiwitan.

Secara etimologi yang mempelajari asal-usul suatu kata, Kasepuhan terambil dari asal kata sepuh dengan awalan ka- dan akhiran -an (Ka-sepuh-an) yang berarti tua dalam padanan bahasa Sunda, hal ini mengacu pada cara hidup masyarakat kasepuhan Ciptagelar yang berdasarkan tradisi leluhur sunda wiwitan yang masih dijalankan secara ketat terutama dalam pola pertanian dan turunannya. Komunitas yang masih ketat pada aturan adat karuhun dalam pegunungan Halimun atau yang populer dengan penyebutan kasepuhan Banten Kidul yaitu Kasepuhan Sinar Resmi, Kasepuhan Bayah, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Ciptagelar, dll.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul adalah suatu komunitas yang dalam kesehariannya menjalankan pola dan perilaku sosio-budaya tradisional yang mengacu pada karakteristik budaya masyarakat Sunda pada abad ke 16 Masehi. Komunitas kasepuhan yang menetap dalam pegunungan halimun ini hidup secara kelompok kecil yang tersebar di provinsi Banten, kabupaten Sukabumi dan Bogor provinsi Jawa Barat. Hidup dan menetap disepanjang lereng-lereng serta bukit-bukit dalam gugusan pegunungan Halimun. Warga kasepuhan Banten Kidul mempercayai bahwa komunitasnya merupakan keturunan kerajaan sunda yang ber-ibu kota-kan Pakuan Pajajaran pada 500 tahun yang lalu.

Wisata Budaya di kampung kasepuhan Ciptagelar

Ciptagelar saat ini telah menjadi destinasi wisata budaya dan wisata alam dengan daya tarik desa tradisional Sunda dengan penduduk mencapai 5.300 orang. Kepemimpinan adat atau tetua adat kasepuhan Ciptagelar saat ini dalam tumpu kepemimpinan Abah Ugi Sugriana Kasawiri yang mewarisi posisi ketika ayahnya yaitu Abah Anom meninggal pada usia 54 tahun.

Sistem kepercayaan utama masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah Sunda Wiwitan dengan dipengaruhi oleh Islam, namun keyakinan atas animisme dan tradisi Sunda wiwitan masih melekat dan tetap menjadi perilaku kehidupan sehari-hari, hal ini sama seperti nenek moyangnya, dimana mereka telah menggabungkan beberapa kepercayaan animisme, dinamisme dan agama dalam tradisi sehingga menjadi kesatuan perilaku hidup dalam kesehariannya, seperti dalam perilaku pertanian, upacara-upacara adat, hubungan sosio kulturan dan banyak lainnya.

Pada setiap tahunnya, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar merayakan ritual adat tahunan yang disebut Seren Taun, Seren taun adalah upacara syukur kepada Tuhan yang maha kuasa atas berkah panen yang melimpah serta menandai awal tahun pertanian dalam tradisi Sunda. Pada saat seren taun itulah banyak  wisatan lokal maupun wisatawan mancanegara berbondong-bondong menuju kampung Ciptagelar untuk menikmati helaran / pagelaran wisata budaya, wisata alam dan wisata sejarah komunitas yang bermukim sejak berabad-abad silam dalam pegunungan Halimun. Dan, Banyak kebudayan dan perilaku kearifan lokal lainnya selain seren taun masyarakat kasepuhan Ciptagelar ini yang memiliki magnet kuat daya tarik wisata. Sumber : Kasepuhan Ciptagelar merupakan destinasi wisata budaya kolot ; Kiade; 2016

7 Kampung adat di Pegunungan Halimun

Terdapat 7 kampung adat dalam pegunungan Halimun yaitu Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Cibedug dan Kasepuhan Ciptagelar yang melingkup dua Kasepuhan lainnya yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi. ketujuh komunitas termaktub merupakan kesatuan adat Banten Kidul atau kasepuhan Banten Kidul yang merujuk pada masyarakat adat sub-etnis Sunda yang menetap dalam pegunungan Halimun di kabupaten Sukabumi bagian barat, hingga Kabupaten Lebak, dan ke sebelah utaranya, sampaikan Kabupaten Bogor. 

Kasepuhan Sinar Resmi

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Budaya di kasepuhan Sinar Resmi Halimun

Kasepuhan Banten Kidul – Kasepuhan Sinar resmi merupakan komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial kasepuhan sinar resmi diatur oleh hukum adat yang telah ditetapkan dan merujuk pada warisan adat karuhun. Sinaresmi termasuk dalam Kesatuan Adat Banten Kidul Kasepuhan Sinar Resmi.

Sinar resmi merupakan komunitas yang hidup berdasar aturan leluhur sunda

-Kiade

Kasepuhan Bayah

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Leuit di Kaepuhan Bandten Kidul Bayah

Kasepuhan Banten Kidul – Selain Sinaresmi, Ciptagelar, Cisungsang, Cisitu, Cicarucup, Citorek, Kasepuhan Bayah merupakan salah satu dari kelompok kasepuhan utama, ”Keutamaan” ini terlihat dari banyaknya perwalian. Mayoritas penduduk kasepuhan bayah beragama, dan sebagiannya masih menganut sunda wiwitan.

Bayah merupakan salah satu dari tujuh kasepuhan utama yang mendiami pegunungan Halimun

-Kiade

Kasepuhan Cisungsang

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Adat membawa padi di kasepuhan Cisungsang

Kasepuhan Banten Kidul – Komunitas masyarakat Cisungsang mempercayai bahwa kampung mereka didirikan oleh anak dari Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajarn, bernama Prabu Walangsungsang yang telah mengalami situasi Ilang Galuh. Tradisi Sunda Wiwitan yang diwariskan oleh para leluhurnya itu menjadi pola kehidupan keseharian di kasepuhan Cisungsang.

…telah menjadi kampung wisata adat Cisungsang dalam pegunungan Halimun

-Kiade

Kasepuhan Cisitu

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
wanita mengeringkan padi di Kasepuhan Cisitu

Kasepuhan Banten Kidul – Struktur pemerintahan adat Kasepuhan Cisitu konon katanya sudah berdiri sejak tahun 1621 dengan menggunakan sistem penguasaan dan pengelolaan wilayahnya yang menganut pada nilai-nilai keseimbangan, fungsi konservasi dan budidaya. Dan, pada tahun 1685 untuk pertama kalinya seren taun diselenggarakan di kasepuhan Cisitu.

Wewengkon Adat Kasepuhan Cisitu sejak tahun 1621 dalam pegunungan Halimun

-Kiade

Kasepuhan Citorek

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Sawah di kasepuhan Citorek Banten Kidul

Kasepuhan Banten Kidul – Kasepuhan Citorek terletak pada ketinggian 501-1050 meter diatas permukaan laut, di dataran tinggi gunung Sanggabuana dan puncak pegunungan Halimun. Komunitas adat masyarakat Citorek sebagian besar penghidupannya berasal dari pertanian terutama dengan menanam padi. Pola pertanian masyarakat kasepuhan Citorek dijalankan dengan aturan ketat adat  dan telah berlangsung secara turun menurun oleh Kelembagaan adat Kasepuhan Citorek.

Kasepuhan Citorek merupakan komunitas yang mendiami dataran tinggi gunung Sanggabuana dan puncak pegunungan Halimun.

-Kiade

Kasepuhan Ciptagelar

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Komplek kasepuhan Ciptagelar di Banten Kidul

Kasepuhan Banten Kidul – Kasepuhan Ciptagelar sudah ada sejak 1300 tahun yang lalu. Kelompok masyarakay yang mendiami pegunungan Halimun ini merupakan komunitas adat dalam kesatuan kasepuhan Banten Kidul, mereka hidupnya semi nomaden atas perintah wangsit untuk berpindah. Masyarakat Ciptagelar sangat kuat memegang teguh adat leluhur secara turun temurun. Karena uniknya, saat ini kampung Ciptagelar telah menjadi destinasi wisata budaya dalam kawasan pegunungan Halimun.

semi nomaden dan ada sejak 1300 tahun yang lalu

-Kiade

Kasepuhan Cicarucub

Model rumah di kasepuhan Cicarucub

Kasepuhan Banten Kidul – Kampung Cicarucub Girang merupakan pusat Kasepuhan Cicarucub, yang sekaligus menjadi tempat menetap ketua adat Kasepuhan. Terdapat tiga kampung dalam kasepuhan Cicarucub yaitu Cicarucub Hilir, Cicarucub Tengah dan Cicarucub Girang. Pranata kehidupan masyarakat kasepuhan Cicarucub diatur dan dikendalikan berdasarkan adat leluhur yang terlembagakan dalam lembaga adat Kasepuhan Cicarucub.

Simpulan jelajah kasepuhan Banten Kidul kampung Ciptagelar

suku pedalaman kasepuhan banten kidul kampung ciptagelar
Suasana dapur di sebuah rumah di kampung Ciptagelar

Kasepuhan Banten Kidul – Kampung adat Ciptagelar dengan sosio kultural masyarakat Sunda merupakan satu dari dari 300 kelompok etnik dengan 1.340 suku bangsa yang mendiami Indonesia (sensus BPS tahun 2010). Kampung Ciptagelar yang mendiam pegunungan Halimun merupakan bagian dari kesatuan adat Banten Kidul yang konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat memiliki leluhur dari kerajaan Pajajaran dengan raja nya Prabu Siliwangi.

Kampung adat Ciptagelar yang masih memegang prinsif-prinsif sunda wiwitan, saat ini banyak dikunjungi oleh para pelancong mancanegara maupun dari nusantara karena keunikan budaya dan tradisinya yang tidak (jangan sampai terjadi) tergerus oleh sistem kapitalis dan liberalis yang berkembang di belahan dunia dan menjadi sistem hidup dan kehidupan, tidak terkecuali dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.


This entry was tagged ciptagelar and kampung adat, desa adat, wisata budaya, kampung ciptagelar, kampung adat ciptagelar, kampung adat sunda, kasepuhan ciptagelar, wisata desa, desa wisata, taman nasional gunung halimun salak, wisata halimun, taman nasional gunung halimun salak, jelajah suku pedalaman di Indonesia, jelajah suku pedalaman, jelajah kampung ciptagelar, ciptagelar di halimun, kasepuhan banten kidul.